Anyelir Kuning

Bagian yang paling tidak disukai oleh kebanyakan orang adalah berpisah. Namun, bukan konteks cinta-cintaan tentunya. 

Meskipun belum ada skill mumpuni dalam diri, tapi boleh kan mengakui bahwa ketimbang bicara adalah opsi lainnya. Menyuarakan beberapa pikiran yang tidak begitu penting juga, itu melegakan. 

Melanjutkan pendidikan bukan mau ku, melainkan sebuah pentuk pelarian agar tak berbaur setiap hari dengan anak-anak. Menjadi guru PAUD jelasnya. Dengan bahasan keseharian tak jauh dari dunia anak juga sebenarnya. Yah, ilmu apapun adalah benar dan penting, selama kapan, dan dimana penggunaanya tepat. 

Tidak terasa mendekati akhir pertemuan dari mata kuliah Inovasi Kurikulum dan  Asesmen PAUD. Seneng, sebab menuju semester tiga, sedikit tidak rela, sebab apakah ada mata kuliah seasyik ini. hehehehe. 

Awalnya, sekedar menulis catatan random dalam diary, melanjutkan keisengan di blog pribadi. Beberapa tanggapan dari anymous chat bernasib sama. Curhat online yah. Kalau dibahasakan lebih nyaman metode seperti ini sih, daripada curhat dengan orang. 

Kemudian salah satu, tugas mata kuliah tak jauh dari menulis. Tidak ada kesulitan, hanya takut tidak sesuai saja dengan sebenarnya yang dimaksud. Penyisipan curhat pasti ada, dan takut ku lagi adalah beberapa mata yang tak berkenan dan nyaman dengan hal tersebut. 

Waktu selalu berjalan dengan banyak berita. Entah bagiamana kumpulan 24 jam yang hanya berlalu. Hal-hal berkesal di masa lalu akan ku tata rapi di kepalaku. 


Terima kasih kepada Bu Qulsum...


ATM

Dari berbagai pembaruan dalam dunia pendidikan  di Indonesia, masih banyak pula ketertinggalan. Mengingat setiap hal memiliki keunggulan dan kekurangan.

Menjadi tahap pertama dalam pendidikan formal seorang anak, sehingga menurutku khususnya lembaga pendidikan anak usia dini harus selalu dilakukan pembaruan, dan yang terpenting lembaga pendidikan anak usia dini harus memberikan kesan menyenangkan, agar tak terjadi kebosanan atau hal-hal yan tak diinginkan pada jenjang selanjutnya. Misalnya, enggan melanjutkan jenjang SD/sederajat sebab dari jenjang sebelumnya yakni PAUD, proses pembelajaran selalu monoton dan belajar mengajar hanya berpusat pada penjelasan guru dan buku majalah. Hal seperti ini dapat ku kemukakan sebab pernah ada hal serupa terjadi di lingkungan sekitar. 

Nah, ada sebuah bayangan kalau istilah Jawa-nya "reng-rengan" atau mungkin dapat diartikan rencana. pembaruan yang akan dikembangkan dan di langgengkan dalam meningkatkan kualitas lembaga PAUD tempatku belajar. 

Pertama, yakni program pendidikan orang tua. Iya, ini nggak salah ketik kok. Wong namanya aja lembaga PAUD, kok malah orang tuanya yang sekolah? Karena eh karena, anak yang sehat, cerdas, berkepribadian baik dibentuk oleh orang tua yang berkualitas pula. Orang tua juga harus paham jika ada hak kewajiban antar orang tua dan anak ataupun sebaliknya yang harus dilaksanakan. kalau contoh kecilnya, orang tuarajin nih, menyuruh anaknya untuk sholat, sementara ayah ibunya tidak pernah mempraktekkan bagaimana sholat itu, orang tua menyuruh anak untuk hidup bersih, sementara nilai-nilai kebersihan didalam rumah tak pernah diajarkan. Kemampuan seperti membaca menulis bisa saja dipelajari si sekolah, namun lebih banyak hal-hal yang bersifat bukan nilai dari buku yang harus dikuasai, dan kesemuanya sebaiknya dipelajari di lembaga bernama keluarga. Program pendidikan orang tua memiliki tujuan membantu paa orang tua memahami pentingnya pendidikan anak usia dini, serta memberikan informasi dan dukungan untuk memberikan fasilitas pembelajaran dirumah, baik materiil dan non materiil. Wujudnya dapat berupa pelatihan, seminar, atau diskusi kelompok antar orang tua.  Dengan demikian bukan tak mungkin kemitraan antara orang tua dengan guru juga semakin baik.  

Kedua, pembelajaran berbasis game, Masih banyak ditemui game hanya digunakan untuk mengisi sesi ice breaking. Walaupun sebenarnya pembelajaran berbasis game dalam kelas sangat diperlukan. Sebuah game dapat dikatakan menarik apabila memiliki tantangan, tujuan, aturan serta hadiah dalam memotivasi anak untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Tidak hanya di PAUD, hingga jenjang tertinggi yakni bangku perkuliahan juga akan efektif bila menggunakan pembelajaran berbasis game. Kalau hal ini murni pendapat pribadi yah, hehehe. 

Contoh game yang bisa dipraktekkan yakni memory game, yang dapat dilakukan dengan mencocokkan gambara atau huruf serupa. Role-playing yakni anak diajak untuk berperan sebagai seorang tokoh masyarakat misalnya. Story telling game yakni anak-anak diajak untuk mengisi kata-kata yang hilang dalam sebuah cerita. Dan tentunya masih banyak jenis game yang edukatif yang dapat diterapkan dalam dunia anak usia dini. Pembelajaran berbasis game dapat meminimalisir pembelajaran dengan model konvensional yang masih memiliki label "monoton dan menjenuhkan", karena itu pula sebuah game memiliki tantangan-tantangan untuk membantu dalam memahami sebuah konsep tertentu. Sehingga, sangat mungkin game dalam proses belajar mengajar dapat menjadi sarana mempermudah dalam memahami materi. 

Sekian teman-teman beberapa kalimat yang ku harap sesuai dan dapat bermanfaat bagi kita semua. 

Terima kasih sudah bersedia membaca hingga akhir...

Salam sayang...




Meja Hijau

Sebenarnya tidak akan pernah berhasil untuk melupakan, sebab untuk bisa ada di saat sekarang, tumbuh dan gugur dari masa lalu. Apa lagi kalau bukan pengalaman? Klausa yang sudah akrab dengan banyak telinga, "pengalaman adalah guru terbaik".  Semoga dengan beberapa kalimat di bawah ini, seseorang tak lagi terpancing dengan kekecewaan dalam dirinya. 

Aku mengenal diriku sebagai bocah yang aktif, pecicilan, ngeyelan, dan beberapa sifat menyebalkan lainnya. Diantara banyak semoga, sekalipun dengan tak nyaman menulis ini. Banyak amin pula dalam setiap sujud, yang memintanya tak kembali. 

Asuhan ibu yang sampai kapanpun tak akan bisa kuimbangi. Perih sendiri merawat luka kami yang terkadang dengan gagang sapu lantai, lalu guyuran air dingin agar aku lekas sadar diri dari bandelku untuk tahu waktu main. Hahaha, karena di waktu kecil sekali main dengan teman ibu harus menemukanku dulu, entah disawah, kali, atau kandang ayam. Yah, memang begitu ceritanya. Anak perempuan satu-satunya, dirumah hanya dengan ibu dan nenek, tanpa sosok laki-laki. Tapi jika diizinkan, aku meminta untuk jatah usiaku dihentikan saat itu. Aku sungguh bahagia, sekalipun bekas cubit yang tak hanya satu berbekas di paha kanan dan kiriku. 

Sekalipun beberapa kali momen karnaval, rekreasi, atau momen dengan kehangatan orang tua yang genap aku tak mendapatkan. Aku tak apa, serius! Ibuku adalah sosok tulang punggung sekaligus malaikat tanpa sayap yang berada pada daftar  nomor satu. Dipeluknya aku mendapatkan dua sosok yang melingkupi. Sayaangg Ibukk..

Menyanyi, adalah satu hal yang aku dan ibu gemari. Aku akan menangis tidak jelas, mengganggu jam tidur tetangga bila tak ada lagu nina bobo dan usapan di punggung oleh tangan ibu. Mulut ku yang suka nggremeng ketika dikelas, yang sekaligus menjadi kali pertama aku ikut lomba, tampil dihadapan banyak mata,malu dan menangis. Tapi entah mengapa kali itu, dengan skor tertinggi aku keluar membawa tropi juara satu dan uang dengan nominal dua ratus lima puluh ribu. Malamnya aku merengek dibawa ke alun-alun untuk dibelikan bando dengan bentuk kelinci wana merah muda. Aihh, kini warna merah muda menjadi warna yang sedikit kuhindari untuk kupakai. 

Selanjutnya, beberapa perlombaan menyanyi kerap kuikuti, kalau tidak salah ingat tujuh kali aku ikut. Tiga kali nomor satu kubawa pulang, lainnya adalah pengalaman berharga. Kok bisa menang sih? Emang suaramu bagus?, penampilanmu memukau?. Enggak, selayaknya anak-anak dengan suara cempreng, yang penting pede. Tetapi biar aku gak minder, kata guruku saat itu, dengan usia kurang dari lima untuk nada-nada tinggi suaraku lumayan. Lumayan rusak, wkwkwkwk. 

Hingga menjelang wisuda TK, aku diminta untuk tampil menyanyi bersama ibu. Hampir kesemua teman-temanku datang bersama ayah dan ibunya. Aku tak masalah. Tapi, "Bapakmu endi? Kok cuma sama ibu thok? Ndak punya bapak yaaa,,, wkwkwk". Aku masih ingat dengan jelas detail kalimat salah seorang teman laki-laki. Selanjutnya, aku yang kecil adalah pendiam, tak mudah berteman, saat itu aku menganggap dunia tak lagi luas. Analogi patah hati di usia dini, aku belum menerima bahwa ayah dan ibu tidak mungkin untuk bersama. Tidak mungkin bisa mengajakku bersama naik andong di alun-alun. Tidak bisa meniup lilin bersama setiap kali umurku berkurang. Aku jelas tak mau mengenang untuk sengaja menggila.

Hingga perlahan menerimanya, aku lebih suka menulis. Mengungkapkan apa yang buntu ketika disuarakan. Usia 6, kelas 1 SD aku sudah bisa menulis bait demi bait puisi, yang kurangkai jadi lagu. Meskipun hanya berani di kamar mandi dan didepan kelas. Dan masih kerap kusenandungkan jika teringat hal serupa sampai kini. Ya, sudahlah.. yang sudah dilalui ndak mungkin bisa diulangi kan. Tidak ada mesin waktu seperti yang ada dalam khayalan anak usia enam. 

Aku yang kecil gemar mengoleksi jepitan ramput dengan berbagai bentuk dan warna, hari Senin wanra Hijau, hari Selasa merah. Harus berganti setiap harinya. Hingga kamarku dipenuhi dengan wadah jepit rambut. Ibu kewalahan menatanya, hingga sebagian diberikan ke tema-teman perempuan disekolah. Yah, setidaknya itu lebih baik. Kalau saat itu, menangis lima jam pun aku kuat. 

Sekali lagi dengan aku yang pecicilan dan ngeyelan, kalau mau sesuatu maka saat itu juga harus. Ah, darimana sifat ini. Contohnya belajar sepeda, usia 4 minta dibelikan sepeda warna pink, rodanya empat. Lengkap dengan kring-kring dan lampu warna-warni. Sebagai anak ibuk yang begitu dieman, ibu tidak tega kalau aku sampai jatuh dan luka. Tetapi dengan ngeyelnya diriku kecil, luka, obat merha, luka bekum kering, besok mau belajar lagi. Sampai selang kurang dari dua minggu, aku telah lihai bersepeda cukup dengan dua roda.

Meskipun aku merasa sudah mampu tetap tak diizinkan untuk berangkat ke sekolah dengan sepeda. Hahaha,nalarku belum sampai saat itu, begitu ngreksanya terhadapku. Maafkan aku ya Buk,,,,

Sekiranya, sedikit cerita di masa TK yang berkesan. Jika menjadi polwan adalah cita-cita yang kulantangkan di masa kecil. Melihatnya berseri dan sumringah adalah tujuanku. 

Terima kasih sudah berkenan membaca.