Sebenarnya tidak akan pernah berhasil untuk melupakan, sebab untuk bisa ada di saat sekarang, tumbuh dan gugur dari masa lalu. Apa lagi kalau bukan pengalaman? Klausa yang sudah akrab dengan banyak telinga, "pengalaman adalah guru terbaik". Semoga dengan beberapa kalimat di bawah ini, seseorang tak lagi terpancing dengan kekecewaan dalam dirinya.
Aku mengenal diriku sebagai bocah yang aktif, pecicilan, ngeyelan, dan beberapa sifat menyebalkan lainnya. Diantara banyak semoga, sekalipun dengan tak nyaman menulis ini. Banyak amin pula dalam setiap sujud, yang memintanya tak kembali.
Asuhan ibu yang sampai kapanpun tak akan bisa kuimbangi. Perih sendiri merawat luka kami yang terkadang dengan gagang sapu lantai, lalu guyuran air dingin agar aku lekas sadar diri dari bandelku untuk tahu waktu main. Hahaha, karena di waktu kecil sekali main dengan teman ibu harus menemukanku dulu, entah disawah, kali, atau kandang ayam. Yah, memang begitu ceritanya. Anak perempuan satu-satunya, dirumah hanya dengan ibu dan nenek, tanpa sosok laki-laki. Tapi jika diizinkan, aku meminta untuk jatah usiaku dihentikan saat itu. Aku sungguh bahagia, sekalipun bekas cubit yang tak hanya satu berbekas di paha kanan dan kiriku.
Sekalipun beberapa kali momen karnaval, rekreasi, atau momen dengan kehangatan orang tua yang genap aku tak mendapatkan. Aku tak apa, serius! Ibuku adalah sosok tulang punggung sekaligus malaikat tanpa sayap yang berada pada daftar nomor satu. Dipeluknya aku mendapatkan dua sosok yang melingkupi. Sayaangg Ibukk..
Menyanyi, adalah satu hal yang aku dan ibu gemari. Aku akan menangis tidak jelas, mengganggu jam tidur tetangga bila tak ada lagu nina bobo dan usapan di punggung oleh tangan ibu. Mulut ku yang suka nggremeng ketika dikelas, yang sekaligus menjadi kali pertama aku ikut lomba, tampil dihadapan banyak mata,malu dan menangis. Tapi entah mengapa kali itu, dengan skor tertinggi aku keluar membawa tropi juara satu dan uang dengan nominal dua ratus lima puluh ribu. Malamnya aku merengek dibawa ke alun-alun untuk dibelikan bando dengan bentuk kelinci wana merah muda. Aihh, kini warna merah muda menjadi warna yang sedikit kuhindari untuk kupakai.
Selanjutnya, beberapa perlombaan menyanyi kerap kuikuti, kalau tidak salah ingat tujuh kali aku ikut. Tiga kali nomor satu kubawa pulang, lainnya adalah pengalaman berharga. Kok bisa menang sih? Emang suaramu bagus?, penampilanmu memukau?. Enggak, selayaknya anak-anak dengan suara cempreng, yang penting pede. Tetapi biar aku gak minder, kata guruku saat itu, dengan usia kurang dari lima untuk nada-nada tinggi suaraku lumayan. Lumayan rusak, wkwkwkwk.
Hingga menjelang wisuda TK, aku diminta untuk tampil menyanyi bersama ibu. Hampir kesemua teman-temanku datang bersama ayah dan ibunya. Aku tak masalah. Tapi, "Bapakmu endi? Kok cuma sama ibu thok? Ndak punya bapak yaaa,,, wkwkwk". Aku masih ingat dengan jelas detail kalimat salah seorang teman laki-laki. Selanjutnya, aku yang kecil adalah pendiam, tak mudah berteman, saat itu aku menganggap dunia tak lagi luas. Analogi patah hati di usia dini, aku belum menerima bahwa ayah dan ibu tidak mungkin untuk bersama. Tidak mungkin bisa mengajakku bersama naik andong di alun-alun. Tidak bisa meniup lilin bersama setiap kali umurku berkurang. Aku jelas tak mau mengenang untuk sengaja menggila.
Hingga perlahan menerimanya, aku lebih suka menulis. Mengungkapkan apa yang buntu ketika disuarakan. Usia 6, kelas 1 SD aku sudah bisa menulis bait demi bait puisi, yang kurangkai jadi lagu. Meskipun hanya berani di kamar mandi dan didepan kelas. Dan masih kerap kusenandungkan jika teringat hal serupa sampai kini. Ya, sudahlah.. yang sudah dilalui ndak mungkin bisa diulangi kan. Tidak ada mesin waktu seperti yang ada dalam khayalan anak usia enam.
Aku yang kecil gemar mengoleksi jepitan ramput dengan berbagai bentuk dan warna, hari Senin wanra Hijau, hari Selasa merah. Harus berganti setiap harinya. Hingga kamarku dipenuhi dengan wadah jepit rambut. Ibu kewalahan menatanya, hingga sebagian diberikan ke tema-teman perempuan disekolah. Yah, setidaknya itu lebih baik. Kalau saat itu, menangis lima jam pun aku kuat.
Sekali lagi dengan aku yang pecicilan dan ngeyelan, kalau mau sesuatu maka saat itu juga harus. Ah, darimana sifat ini. Contohnya belajar sepeda, usia 4 minta dibelikan sepeda warna pink, rodanya empat. Lengkap dengan kring-kring dan lampu warna-warni. Sebagai anak ibuk yang begitu dieman, ibu tidak tega kalau aku sampai jatuh dan luka. Tetapi dengan ngeyelnya diriku kecil, luka, obat merha, luka bekum kering, besok mau belajar lagi. Sampai selang kurang dari dua minggu, aku telah lihai bersepeda cukup dengan dua roda.
Meskipun aku merasa sudah mampu tetap tak diizinkan untuk berangkat ke sekolah dengan sepeda. Hahaha,nalarku belum sampai saat itu, begitu ngreksanya terhadapku. Maafkan aku ya Buk,,,,
Sekiranya, sedikit cerita di masa TK yang berkesan. Jika menjadi polwan adalah cita-cita yang kulantangkan di masa kecil. Melihatnya berseri dan sumringah adalah tujuanku.
Terima kasih sudah berkenan membaca.
semoga kebahagian senantiasa meliputimu
BalasHapusaamiin...
HapusDoa baik kembali kepada panjenengan...