ATM

Dari berbagai pembaruan dalam dunia pendidikan  di Indonesia, masih banyak pula ketertinggalan. Mengingat setiap hal memiliki keunggulan dan kekurangan.

Menjadi tahap pertama dalam pendidikan formal seorang anak, sehingga menurutku khususnya lembaga pendidikan anak usia dini harus selalu dilakukan pembaruan, dan yang terpenting lembaga pendidikan anak usia dini harus memberikan kesan menyenangkan, agar tak terjadi kebosanan atau hal-hal yan tak diinginkan pada jenjang selanjutnya. Misalnya, enggan melanjutkan jenjang SD/sederajat sebab dari jenjang sebelumnya yakni PAUD, proses pembelajaran selalu monoton dan belajar mengajar hanya berpusat pada penjelasan guru dan buku majalah. Hal seperti ini dapat ku kemukakan sebab pernah ada hal serupa terjadi di lingkungan sekitar. 

Nah, ada sebuah bayangan kalau istilah Jawa-nya "reng-rengan" atau mungkin dapat diartikan rencana. pembaruan yang akan dikembangkan dan di langgengkan dalam meningkatkan kualitas lembaga PAUD tempatku belajar. 

Pertama, yakni program pendidikan orang tua. Iya, ini nggak salah ketik kok. Wong namanya aja lembaga PAUD, kok malah orang tuanya yang sekolah? Karena eh karena, anak yang sehat, cerdas, berkepribadian baik dibentuk oleh orang tua yang berkualitas pula. Orang tua juga harus paham jika ada hak kewajiban antar orang tua dan anak ataupun sebaliknya yang harus dilaksanakan. kalau contoh kecilnya, orang tuarajin nih, menyuruh anaknya untuk sholat, sementara ayah ibunya tidak pernah mempraktekkan bagaimana sholat itu, orang tua menyuruh anak untuk hidup bersih, sementara nilai-nilai kebersihan didalam rumah tak pernah diajarkan. Kemampuan seperti membaca menulis bisa saja dipelajari si sekolah, namun lebih banyak hal-hal yang bersifat bukan nilai dari buku yang harus dikuasai, dan kesemuanya sebaiknya dipelajari di lembaga bernama keluarga. Program pendidikan orang tua memiliki tujuan membantu paa orang tua memahami pentingnya pendidikan anak usia dini, serta memberikan informasi dan dukungan untuk memberikan fasilitas pembelajaran dirumah, baik materiil dan non materiil. Wujudnya dapat berupa pelatihan, seminar, atau diskusi kelompok antar orang tua.  Dengan demikian bukan tak mungkin kemitraan antara orang tua dengan guru juga semakin baik.  

Kedua, pembelajaran berbasis game, Masih banyak ditemui game hanya digunakan untuk mengisi sesi ice breaking. Walaupun sebenarnya pembelajaran berbasis game dalam kelas sangat diperlukan. Sebuah game dapat dikatakan menarik apabila memiliki tantangan, tujuan, aturan serta hadiah dalam memotivasi anak untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Tidak hanya di PAUD, hingga jenjang tertinggi yakni bangku perkuliahan juga akan efektif bila menggunakan pembelajaran berbasis game. Kalau hal ini murni pendapat pribadi yah, hehehe. 

Contoh game yang bisa dipraktekkan yakni memory game, yang dapat dilakukan dengan mencocokkan gambara atau huruf serupa. Role-playing yakni anak diajak untuk berperan sebagai seorang tokoh masyarakat misalnya. Story telling game yakni anak-anak diajak untuk mengisi kata-kata yang hilang dalam sebuah cerita. Dan tentunya masih banyak jenis game yang edukatif yang dapat diterapkan dalam dunia anak usia dini. Pembelajaran berbasis game dapat meminimalisir pembelajaran dengan model konvensional yang masih memiliki label "monoton dan menjenuhkan", karena itu pula sebuah game memiliki tantangan-tantangan untuk membantu dalam memahami sebuah konsep tertentu. Sehingga, sangat mungkin game dalam proses belajar mengajar dapat menjadi sarana mempermudah dalam memahami materi. 

Sekian teman-teman beberapa kalimat yang ku harap sesuai dan dapat bermanfaat bagi kita semua. 

Terima kasih sudah bersedia membaca hingga akhir...

Salam sayang...